Ekspetasi Tanpa Batas
Merah menjadi biru, biru menjadi hijau sangat mudah bukan ? Yah..... sangat muda untuk di ucapkan namun tak seperti membalikan kedua telapak tangan. Terkadang ucapan yang kita lontarkan sangat mudah terucap namun tak kunjung menjadi sebuah aksi. Hal yang sudah biasa terjadi di bumi kita ini, apalagi dengan gampangnya kita menggampangkan ucapan kita itu tanpa berfikir terlebih dahulu.wal hasil ya kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Sebuah pepatah mengatakan "Mulutmu Harimaumu" memang benar, terkadang mulut kita yang tidak mempunyai rem begitu saja melontarkan perkataan bahkan cacian kepada orang lain. Namun, kita harus tetap ingat bahwah Ucapan Adalah Do'a. Dulu aku punya sebuah mimpi yang ku fikir bisa terwujud atas semua apa yang telah ku planingkan. Namun, semua itu tak bisa terwujud sepenuhnya.
Sangat terngiang dalam benakku ketika waktu itu saya masih duduk disekolah dasar di kabupaten subang, jawa barat. ketika teman-teman saya pergi dan memilih untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Pertama waktu itu kisaran 90% di sekolah yang sama. aku bingung mengapa tak ada rasa ingin melanjutkan bareng ke sekolah yang sama dengan mereka. aku di beri pilihan oleh orangtuaku untuk melanjutkan sekolah/pendidikan yaitu antara pondok salafi dan pondok modern di jawa (dahulu aku menyebut Jawa Tengah itu dengan Jawa). pada akhirnya hari semakin mendekat aku sempat berangkat untuk nyantri di pondok dekat rumahku dan hampir semua pakaianku di bawa ke pondok itu.
Pada suatu malam aku bertemu dengan mang-amang aku lupa siapa namanya hehehe........ Aku sedikit berbincang-bincang dengannya dan ada sebuah pelajaran penting yang bisa aku dapat dan simpulkan bahkan hingga kini masih terngiang-ngiang dalam benakku yaitu "Lamun arek ngarantow engke tong hilap sareng lembur maneh di lahirkeun" ucapnya waktu itu. aku terus mengingat perkataan itu hingga sekarang bahkan nanti, karena memang sebuah kata yang sederhana dengan hati itu lebih bernilai dan bermakna daripada perkataan tanpa hati meskipun panjang dan lebar.
Berat memang rasanya meninggalkan kampung halaman yang telah menjelaskan arti pentingnya mempertahankan dan memperjuangkan hehehe............ namun apalah daya ini semua demi masa depan yang mungkin bisa terjadi lebih baik ( fikirku waktu itu). Apalagi lebih berat lagi ketika meninggalkan pondok pesantreh al-Athfaal tercinta dan ketika berpamitan dengan pengasuh pondok, aku teringat ketika hendak melaksanakan Imtihan ( Umumnya Haflah) aku disuruh untuk jadi japlin sama guruku pada grup marawis pada waktu itu. Namun pada waktu itu aku kabur dan lari kesawah hingga sangat jauh dan tidak jadi untuk japlin pada waktu. itu terjadi di akhir-akhir sebelum berangkat ke jawa untuk ke pesantren.
Pada akhirnya...............................
Ditunggu selanjunya yah di Izzan's Brain pada edisi Eskpetasi Tanpa Batas...
Jangan lupa commant...

Komentar
Posting Komentar